Montag, Februar 01, 2016

Curriculum Vitae

Saya dapat dijumpai di http://about.me/juneman

Juneman Abraham. Dosen Tetap pada Jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora, Universitas Bina Nusantara. Pernah menjadi Dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Bhayangkara Jaya, Universitas Mercu Buana Jakarta, Universitas Pancasila, Universitas Atma Jaya Jakarta, dan Universitas Pelita Harapan. Alumnus program studi S1 Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI, 2007) dan Alumnus program Magister Sains Psikologi Sosial Universitas Indonesia (UI, 2011). Memperoleh sertifikasi internasional Certified Webmaster Professional (CWP) dari World Organization of Webmasters (2001). Subject Content Specialist Bidang Metodologi Penelitian Psikologi (2011), selanjutnya Subject Content Coordinator Bidang Psikologi Sosial-Komunitas (sejak 2012) pada Universitas Bina Nusantara, Anggota Pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah DKI Jakarta (2007-2014), Ketua Kompartemen Keorganisasian dan Keanggotaan-Pengurus Pusat HIMPSI (2014-sekarang). Sekretaris Jenderal Asian Psychological Association (APsyA, 2014-2016); Presiden Association of Behavioural Researchers on Asians-Indonesia Chapter (ABRAindonesia, sejak 2014); Anggota Peneliti Center for Terrorism and Social Conflict Studies-Universitas Indonesia (CTSC UI, sejak 2013); Anggota Pengurus Ikatan Psikologi Sosial HIMPSI (periode 2010-2014), Wakil Dekan/Ketua Program Studi S1 Psikologi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (2008-2011), Anggota Pengurus Departemen Pusat Penelitian Ikatan Alumni Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI (IKAPSI UPI-YAI, 2010-2013), Anggota American Psychological Association-Graduate Students (APGS-APA, 2009-2011). Ia merupakan Anggota Pendiri Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia (AIFI, 2010), Anggota Aktif Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa (JEJAK JIWA) Indonesia (2007-sekarang), serta Konsultan dan Pelatih pada Mercu Buana Training & Consulting/MBTC (2006-2010). Ia juga merupakan Anggota Sidang Penyunting Jurnal Ilmiah Psikologi PSIKOBUANA Universitas Mercu Buana Jakarta (2008-2011, www.psikobuana.com, ISSN 2085-4242), Jurnal Kesehatan Jiwa Indonesia ATARAXIS (2007), Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences/IJLFS (2008, ISSN 1979-1763), Jurnal Psikologi Ulayat/Indonesian Journal of Indigenous Psychology (2012-2014, ISSN 2088-4230), Asian Journal of Environment-Behaviour Studies (ISSN 1394-0384), serta Ketua Sidang Penyunting Jurnal Ilmiah Psikologi Industri dan Organisasi/JPIO (sejak 2012, www.jpio.org, ISSN 2302-8440, bekerjasama dengan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi/APIO PP HIMPSI), dan Sekretaris Dewan Redaksi Jurnal Psikologi Indonesia (ISSN 0853-3098, www.himpsi.or.id). Menulis buku hasil penelitian Psychology of Fashion (LKIS, 2010, ISBN 9789792553253). Menyunting buku Program Keluarga Harapan di Indonesia: Dampak Pada Rumah Tangga Sangat Miskin di Tujuh Provinsi (Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial/P3KS Press, Jakarta, ISBN 9786028427708, 2012) serta Isu Etik Dalam Penelitian di Bidang Kesehatan (AIFI & Universitas YARSI, ISBN 9786021420805, 2013). Dalam bidang pengembangan diri, ia mengikuti pelatihan Intercultural Rhetoric (diselenggarakan oleh Psychology Department-UNIKA Atma Jaya Jakarta & Institut fuer Kommunikation and Interkulturelle Kompetenz, Hochschule fuer Technik Rapperswil, Switzerland, 2014) dan Male Counseling/Konseling Perubahan Perilaku Untuk Laki-laki (diselenggarakan oleh PULIH Foundation & RutgersWPF, 2014). Ia dapat dihubungi melalui email juneman@socialpsychologist.org 

Freitag, Mai 08, 2015

Tulisan terbrilian yang saya baca pekan ini: Lakon Sesat (Kurnia JR)

Lakon Sesat


Anda pernah menonton sandiwara, semisal pertunjukan Teater Koma? Apakah Anda merasa ada bagian tertentu yang ditonjolkan secara berlebihan? 

Drama menggambarkan kehidupan dengan fokus pada aspek tertentu. Kita tahu maksudnya adalah untuk menegaskan alur cerita, tokoh, situasi, atau suasana dunia lakon, bukan untuk menyesatkan penonton.

Tokoh karismatik akan beraksi penuh wibawa. Gayanya gagah ketika bermonolog atau berdialog, dagu terangkat, suaranya berat lembut sehingga penonton mendapatkan karakter penuh pesona. Tokoh pejabat korup yang sok saleh, gaya monolognya sering ditingkah tawa jemawa; saat berdialog dengan massa gemar istigfar, bahkan menangis sesenggukan di muka wartawan.

Itulah tontonan di panggung teater. Anda dan saya menonton para aktor dan aktris yang beraksi menurut arahan sutradara.

Kini, bisakah Anda ingkari bahwa di Republik ini banyak aktor-aktris dalam lakon sesat? Lakon itu, dengan sukacita atau terpaksa, kita sepakati dan mainkan bersama akibat kelemahan sistem hukum dan moral. Lakon yang mengundang bencana kebodohan kolektif dan berujung kehancuran dengan sutradara lebih dari seorang. Mereka yang paham konteks akan bersoal perihal jati diri para dalang.
Dalam Notre-Dame de Paris adikarya Victor Hugo, raksasa sastra Perancis, ditampilkan sosok dalang Claude Frollo, wakil uskup. Gaya hidupnya yang kaku dan menyangkal gairah berahi duniawi telah menciptakan citra diri suci di mata umum.

Tiada yang menyangka, sang wakil uskup berwatak keji. Sejak tersihir pesona La Esmeralda si gadis Gipsy, moralnya merepih. Imannya kewalahan melawan keindahan si Bunga Lily, perawan suci dari dunia gelandangan.

Tak mau mengakui kelemahan kodrati yang melekat pada dirinya, Frollo ambil jalan kejam: melenyapkan La Esmeralda, biang keladi pengacau iman. Ia memperalat Jacques Charmolue, pengacara raja di pengadilan gereja, untuk mencari-cari kesalahan si penari jalanan. Tiada beda lagi antara kesucian moralitas dan kebusukan dalih palsu sang biarawan.

Suatu malam, Frollo menikam lelaki yang tengah merayu gadis itu di kamar losmen. La Esmeralda, yang pingsan karena kaget, tiba-tiba jadi tersangka. Jalan hidup gadis 15 tahun itu mendadak kelam. Dakwaannya berat: pembunuh dan penyihir.

Masyarakat yang semula memandang La Esmeralda sebagai matahari jalanan kota Paris ikut mencemooh. Dia yang datang dari kaum gembel memang rentan fitnah dan ketidakadilan.

Gambaran sekarang

Pernyataan sang narator cerita seperti menyindir kita: ”keadilan pada zaman itu tak banyak menaruh perhatian pada klarifikasi dan akurasi dalam proses persidangan.” Raja Louis XI, sonder periksa, menjatuhkan vonis mati atas La Esmeralda.

Cerita tamat dengan kematian si gadis suci di tiang gantungan. Sang dalang, Wakil Uskup Frollo, selamat, tetapi pengarang tak rela. Dia dibunuh Quasimodo, si bungkuk yang tahu kejahatan ayah angkatnya itu.

Lakon bangsa kita lebih buruk daripada cerita itu. Warga Paris abad pertengahan tidak punya akses untuk memahami intrik-intrik kekuasaan di gereja dan istana. Mereka membebek ke mana telunjuk penguasa diarahkan. Keadaan kita tidak senaif itu. Namun, informasi dan transparansi nyaris tak berguna karena elite politik berduyun-duyun ikut narasi dalang, sementara rakyat sekadar aktor tanpa wajah.

Di tengah gerakan bangsa melawan korupsi, para dalang dengan kepentingan masing-masing berkomplot melumpuhkan hamba-hamba hukum yang jujur. Masyarakat gelisah merasakan kejanggalan perilaku penegak hukum yang jemawa.

Dalih ”demi hukum dan konstitusi”, ”menghindari pencemaran nama baik”, ”sesuai prosedur hukum”, ”tiada intervensi terhadap lembaga hukum” sekilas tampak netral, tertib, dan positif. Padahal, semua itu membuat kita kerdil, terpasung, dan ikut memainkan lakon sesat.

Dalam lakon ini, bukankah konstatasi-konstatasi itu jadi aspek yang ditonjolkan secara berlebihan sehingga terjadi digresi cerita berkepanjangan?

Perlu ada dekonstruksi pemaknaan atas frase-frase normatif yang rentan manipulasi itu karena, tak mustahil, malah jadi dinding pelindung ruang gelap tempat aparat korup mendalang. Tanpa terobosan hukum, presiden pun tak berdaya.

Mari kita sudahi lakon ini. Saatnya para dalang dituntut pertanggungjawabannya.

Kurnia JR, Sastrawan

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Mei 2015, di halaman 6 dengan judul "Lakon Sesat".