Homepage

Sunday, May 31, 2026

Simtom Kegagalan Sistemik dari Kasus "Riset Palsu di Travel Grant"

Krisis integritas akademik yang marak terjadi akhir-akhir ini - seperti fenomena berburu insentif, pencatutan nama (unauthorized authorship) di konferensi (kasus RF & P) maupun jurnal ilmiah (ingat kasus Profesor K?) - tidak boleh dilihat sekadar sebagai "dosa personal" atau kenakalan moral peneliti muda secara individual. Fenomena ini adalah simptom dari kegagalan sistemik di mana dimensi struktural yang abai (ignorant) berkelindan dengan dimensi kultural yang mengalami krisis keteladanan kronis.

 

Dimensi Struktural: Pembiaran dan kebijakan yang anomik/simpang siur

Secara struktural, negara dan institusi pendidikan tinggi gagal membangun dan merawat infrastruktur edukasi dan pengawasan etika yang kokoh.

      Salah satu indikator kuatnya adalah dibiarkannya instrumen seperti ANJANI (Anjungan Integritas Akademik Indonesia) berjalan tanpa taji atau "mati".

      Yang dipertahankan justru sistem yang berorientasikan ranking/pemeringkatan produktivitas publikasi (seperti SINTA/Science and Technology Index, diperkuat lagi dengan IKU/Indikator Kinerja Utama Universitas yang diterbitkan baru-baru ini oleh Kemendiktisaintek), atau konformitas yang kuat terhadap tuntutan publikasi global -  dalam hal mana sistem ini telah melahirkan risiko tinggi yang mendorong akademisi mencari celah korupsi akademik. Yang lahir bukanlah hilirisasi ilmu, melainkan pemburuan rente akademik.

      Kebijakan makro dari kementerian/Lembaga terkait tidak pernah mengurus secara serius masalah integritas akademik dengan menyentuh akar masalah ekosistem riset nasional, melainkan hanya sibuk “memadamkan kebakaran” dengan teknikalitas (seperti skrining, filter, audit, cekal, dan sejenisnya) saat kasus mencuat ke publik.

 

Dimensi Kultural: Krisis keteladanan kronik dari senioritas 

Secara kultural, peneliti dan pemuda kita tumbuh dalam ruang minim keteladanan, atau bahkan dikelilingi oleh keteladanan yang keliru dari para seniornya.

      Generasi muda menyaksikan bagaimana borok yang terbongkar cukup banyak dari para elite akademik yang justru melakukan fabrikasi dan falsifikasi demi jabatan akademik yang dipandang harus dicapai dengan “cara apapun”, sebagaimana investigasi Kompas mengenai perjokian karya ilmiah di kalangan calon guru besar.

      Mengutip refleksi saya pada kasus LPDP (Mba DS) yang lalu, tindakan WNI yang kehilangan kompas moralitas atau hanya menyuburkan kepentingan pribadi (melupakan kepentingan masyarakat yang lebih luas), berakar dari minimnya keteladanan moral dari para profesor (lihat juga: Tajuk Rencana KOMPAS: Guru Besar Abal-abal) dan pejabat publik negeri ini. Ketika "pucuk pimpinan" kehilangan integritas, moralitas generasi di bawahnya ikut runtuh secara perlahan.

 

Dampak dan Ironi: Horizontal public shaming & cuci tangan institusional

Rangkaian kerusakan struktural dan kultural ini bermuara pada ironi yang tragis di permukaan sosial:

      Pemuda-pemudi kita (seperti daftar nama terduga pelaku yang beredar di media sosial) akhirnya terjebak dalam pusaran investigasi dan public shaming horizontal yang semakin intens di platform digital seperti X dan Threads. Sesama anak muda saling memburu dan menghakimi di ruang publik.

      Sementara itu, mereka yang berada di struktur atas (universitas, komite etik, birokrat di eksekutif dan legislatif) memosisikan diri hanya sebagai penilai atau pengambil tindakan hukum formal. Institusi juga buru-buru menegaskan bahwa "ini tidak berkaitan dengan kegiatan kampus saat berkuliah" atau "mereka bukan dosen aktif". Ini adalah bentuk patronase moral sekaligus sikap lepas tangan tanpa ada refleksi mendalam, bahwa ekosistem yang mereka bangun dan peliharalah yang sangat mungkin melahirkan “monster-monster” kecil ini.

 

Pada akhirnya, siapa yang jadi korban? 

Korban sejatinya adalah masa depan sains dan generasi muda itu sendiri. Mereka dikorbankan oleh sistem yang menuntut capaian kuantitatif di satu sisi, namun menyuburkan kultur anomik-korosif serta ignorant terhadap situasi struktural di sisi lain. Pembenahan tidak akan pernah selesai jika kita hanya berburu "apa yang di depan mata" tanpa merombak total cara pandang institusi atas integritas ilmiah.

 

Simtom Kegagalan Sistemik dari Kasus "Riset Palsu di Travel Grant"

Krisis integritas akademik yang marak terjadi akhir-akhir ini - seperti fenomena berburu insentif, pencatutan nama ( unauthorized authorship...